Tag: Wisata Langka Bekasi

Wisata Seru di Bekasi Yang Jarang Diketahui

Tak hanya terkenal macetnya, Bekasi pun punya bermacam-macam jenis objek wisata sampai kuliner menarik. Dibawah ada beberapa yang dapat jadi rekomendasi. Buat orang Jakarta, Bekasi bagaikan dekat nun jauh. Kota yang berbatasan langsung tapi harus ditempuh sepanjang berjam-jam disebabkan macet panjang. Tapi apa Bekasi hanya tersohor karena kesemerawutan lalu lintasnya semata?

Menjawab masalah diatas ada salah satu media ternama mengadakan Piknik ke Bekasi Agustus tahun lalu. Dan rupanya peserta belum hanya berasal dari Jakarta saja, akan tetapi juga ada dari Bogor dan Bekasi tersendiri. Karena keterbatasan waktu, Piknik menuju Bekasi kali ini dibatasi secara mengunjungi sebagian tempat yang lokasinya tak begitu jauh satu dengan lainnya. Dan dibawah ada wisata seru yang jarang diketahui orang tapi berhasil ditemukan.

  • Curug Parigi. Tadinya saya pikir tuk tiba tempat wisata ini perlu tenaga ekstra tuk trekking. Rupanya menuju curug ini tak serepot yang dipikirkan. Dari tempat parkir mobil cuma perlu turun sedikit. Senang saat kami kesana cuaca lagi panas terik hingga jalan ke curug yang terdiri dari tanah tak licin. Lokasi curug ini tidak jauh dari tempat pembuangan sampah terpadu (TPST), Bantar Gebang.
  • Saung Ranggon. Bangunan cagar budaya berbentuk rumah panggung dibuat dari kayu tanpa paku yang dibuat dari besi maupun metal. Konon rumah itu berusia 500 tahun. Rumah tersebut dibangun Pangeran Rangga putra dari Pangeran Jayakarta lalu jadi basis perlawanan rakyat Bekasi atas pemerintah kolonial Belanda. Pada salah satu kamar di Saung Ranggon, disimpan sejumlah senjata tradisional warisan Pangeran Rangga serta keturunannya. Rupanya lokasi Saung Ranggon ini tak jauh dari daerah industri MM21000.
  • Rumah Makan Lestari. Acara diteruskan dengan pergi ke rumah makan Lestari di sekeliling Kalimalang, Bekasi tuk makan siang. Makan siang kali ini rasanya istimewa sebab salah satu menu yang disuguhkan ialah Gabus Pucung. Ikan Gabus yang dipanaskan berkuah pedas dengan bumbu-bumbu kluwek yang menciptakan kuah warna hitam.
  • Gedung Juang 45 dan Museum Bekasi. Tempat selanjutnya yang kami datangi ialah Gedung Juang 45 di sekitar Tambun. Bangunan arsitektur neo-klasik ini didirikan oleh tuan tanah di Bekasi, Khouw Tjing Kie awal tahun 1900an dan jadi saksi bisu kerja keras rakyat Indonesia di Bekasi kontra tentara Belanda juga Jepang. Disamping Gedung Juang 45, ada Museum Bekasi yang di tanggal 21 Agustus 2016 baru dinyatakan dan dibuka tuk umum. Mungkin mengingat baru diresmikan, koleksi museum masih sangat minim adanya.
  • Klenteng Hok Lay Kiong. Tempat terakhir yang disambangi merupakan klenteng Hok Lay Kiong yang adalah klenteng kesatu di Bekasi yang berada di sekeliling pasar proyek. Klenteng tersebut memang tak terletak di jalanan raya utama, tetapi sedikit memasuki ke lokasi komplek rumah. Hok Lay Kiong kabarnya berarti rumah pembawa berkah. Tapi tak ada informasi yang valid seputar klenteng ini. Sejumlah peserta Piknik mencoba mengintip peruntungan masa depan secara melakukan Ciam Si, melewati prosesi mengocok puluhan lidi bambu itu sendiri bertuliskan nomor. Satu lidi bambu keluar ditukar dengan kertas isi ramalan berdasarkan nomor yang tertulis di lidi bambu. Piknik kali ini selesai di Alun-alun kota, tepatnya seusai beberapa peserta menjalankan ibadah shalat Maghrib di Masjid Agung Al Barkah. Jadi menjelang weekend ini, tak ada salahnya d’Traveler menambahkan wisata Bekasi didalam daftar tujuan wisata:)